Sabtu, 08 Juni 2013

Mengembangkan Perencanaan Asuhan yang Komprehensif


KATA PENGANTAR

            Puji syukur kami ucapkan kepada Tuhan yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya kami bisa menyelesaikan makalah penulisan ilmiah yang membahas tentang MAKALAH MENGEMBANGKAN PERENCANAAN ASUHAN YANG KOMPREHENSIF .
Pada penulisan makalah ini, kami berusaha menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti oleh semua orang, sehingga lebih mudah dipahami oleh pembaca. Makalah penulisan ilmiah ini juga diharapkan dapat bermanfaat bagi kita semua, terutama mahasiswa kesehatan.
 Kami menyadari dalam penyusunan makalah ini tidaklah sempurna, masih banyak kekurangan dan kelemahan didalam penulisan makalah kami, baik dalam segi bahasa dan pengolahan maupun dalam penyusunan. Untuk itu, kami sangat mengharapkan saran yang sifatnya membangun demi mencapainya suatu kesempurnaan dalam makalah ini.

 Citeureup, 12 April 2013










i
DAFTAR ISI
·         KATA PENGANTAR................................................................................................................i
·         DAFTAR ISI..............................................................................................................................ii
·         BAB I PENDAHULUAN..........................................................................................................1
1.1  Latar Belakang.....................................................................................................................1
1.2  Tujuan...................................................................................................................................1
1.2.1        Tujuan Umum................................................................................................................1
1.2.2        Tujuan Khusus................................................................................................................1
·         BAB II PEMBAHASAN...........................................................................................................3
2        Mengembangkan Perencanaan Asuhan yang Komprehensif...............................................3
2.1  Menetapkan Kebutuhan Tes Lab..........................................................................................3
2.2  Menetapkan Kebutuhan Belajar...........................................................................................4
2.3  Menetapkan Kebutuhan Konsultasi/Rujukan Pada Tenaga Profesional Lainnya................7
2.4  Menetapkan Kebutuhan Untuk Pengobatan Komplikasi Ringan.........................................9
·         BAB III PENUTUP..................................................................................................................14
Kesimpulan...............................................................................................................................14
·          Referensi.....................................................................................................................15







ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1   Latar Belakang
Pemeriksaan laboratorium awal pada wanita dengan resiko ringan meliputi tes darah berikut : golongan darah dan faktor rhesus(Rh), skining antibodi, hitung darah lengkap (hematokrit), Rapid Plasma Reagin (RPR), atau tes lain untuk mendeteksi sifilis, titer rubela, HBSAg dan HIV. Banyak juga klinisi melakukan kultur urine. Kondisi umum klien memungkinkan pelaksanaan tes tambahan. Seiring kemajuan tes kehamilan, tes tambahan seperti skrining tripel serum maternal juga diperlukan.
Sistem rujukan dalam pelayanan obstetri adalah suatu pelimpahan tanggung jawab timbal balik atas kasus atau masalah kebidanan yang timbul baik secara vertikal maupun horizontal. Rujukan vertikal maksudnya rujukan dan komunikasi antara satu unit ke unit lain yang lebih lengkap. Umpamanya dari rumah sakit kabupaten ke rumah sakit provinsi atau rumah sakit tipe C ke rumah sakit tipe B yang lebih spesialistis fasilitas dan personalianya. Sedangkan horizontal maksudnya konsultasi dan komunikasi antar unit yang ada dalam satu rumah sakit, misalnya antara bagian kebidanan dan bagian ilmu kesehatan anak.
Konseling adalah kebutuhan proses pembicaraan dan pembahasan masalah-masalah antara kita dengan konselor (orang yang dilatih untuk mengatasi masalah PMS).


1.2  Tujuan
1.2.1        Tujuan Umum
Mengembangkan rencana asuhan yang komprehensif

1.2.2        Tujuan Khusus
·         Menetapkan Kebutuhan Tes Laboratorium
·         Menetapkan Kebutuhan Belajar
·         Menetapkan Kebutuhan Atau Rujukan Pada tenaga Profesional Lainnya
·         Kebutuhan Konseling HIV/PMS
·         Jadwal Kunjungan Sesuai dengan Perkembangan Kehamilan
·          Asuhan Kehamilan Kunjungan Ulang
·         Mengevaluasi Data Dasar




















BAB II
PEMBAHASAN
2. MENGEMBANGKAN PERENCANAAN ASUHAN YANG KOMPREHENSIF

2.1 MENETAPKAN KEBUTUHAN TES LAB
Pemeriksaan laboratorium awal pada wanita dengan resiko ringan meliputi tes darah berikut : golongan darah dan faktor rhesus(Rh), skining antibodi, hitung darah lengkap (hematokrit), Rapid Plasma Reagin (RPR), atau tes lain untuk mendeteksi sifilis, titer rubela, HBSAg dan HIV. Banyak juga klinisi melakukan kultur urine. Kondisi umum klien memungkinkan pelaksanaan tes tambahan. Seiring kemajuan tes kehamilan, tes tambahan seperti skrining tripel serum maternal juga diperlukan.
Tujuan dilakukannya tes laboratorium adalah untuk mendeteksi kamplikasi-komplikasi kehamilan pada ibu hamil. Hal-hal yang bersangkutan dengan test  laboratorium :
1.    Pemeriksaan Laboratorium saat Antepartum
a.    Pemeriksaan urine, untuk mengetahui adanya kadar protein dan kadar glukosa di dalam urine.
b.    Pemeriksaan darah, untuk mengetahui golongan darah, faktor rhesus (Rh), Hemoglobin dan rubelanya.
c.    Pemeriksaan ultrasonografi, untuk mengetahui apakah ada komplikasi kehamilan atau tidak, memastikan kehadiran janin, ukuran janin dan posisi plasenta, serta menetapkan bahwa ukuran janin meningkat atau tidak. Untuk mengetahui kondisi yang ada di dalam uterus dapat dilihat melalui layar oskiloskop dalam bentuk gambar bayangan
2.    Pemeriksaan Laboratorium saat Pascapartum
a.    Pemeriksaan darah, untuk mengetahui homoglobin
b.    Hematokrit
c.    Urin bersih, untukurinalisis rutin
3.    Pemeriksaan laboratorium intrapartum
Jika wanita sudah ada pada fase aktif persalinan riwayat yang sudah diambil pada saat kedatangan dapat menjadi satu-satunya sumber sampai bayi dilahirkan. Riwayat yang diambil pada fase aktifpersalinan harus mencakup tinjauan ulang terhadap kehamilan, kondisi fisik dan psikologis, tinjauan ulang terhadap kehamilan terdahulu, kesehatan secara umum, serta informasi mengenai pengobatan dalam keluarga.
Setelah riwayat diambil, klien hanya perlu menjalani pemeriksaan fisik mencakup pemeriksaan pelvikuntuk memastikan presentasi, posisi janin dan menentukan lebarnya pembukaan.


2.2 MENETAPKAN KEBUTUHAN BELAJAR
Penuntun belajar digunakan untuk melatih keterampilan dalam pencapaian elemen-elemen kompetensi oleh mahasiswa secara individual. Mulai dari latihan di laboratorium keterampilan sampai saat melaksanakan praktik klinik kebidanan. Bimbingan keterampilan untuk mencapai kompetensi di laboratorium keterampilan asuhan kebidanan baru bisa dilaksanakan atau diikuti oleh seorang mahasiswa bila mahasiswa tersebut telah mengikuti perkuliahan seluruh materi kuliah asuhan kehamilan (mata kuliah asuhan ibu I). Dalam perkuliahan tersebut mahasiswa mendapat teori tentang teori tentang fisiologi kehamilan, pertumbuhan kehamilan dari bulan ke bulan, kebutuhan fisik dan psikologis ibu selama kehamilan, perubahan fisik dan psikologis ibu selama hamil, perubahan fisik dan psikologis ibu dalam masa kehamilan, teori tentang pendekatan dalam asuhan kehamilan (Manajemen Varney) dan dokumentasi asuhan kehamilan. Dalam perkuliahan juga dilakukan demonstrasi dan simulasi keterampilan yang mendukung kompetensi yang akan dilatih atau dipelajari.
Pembimbing melakukan evaluasi atau penilaian terhadap :
1. Keterampilan mahasiswa berdasarkan langkah-langkah kerja ang ditentukan dalam penuntun belajar menggunakan format penilaian keterampilan dengan teknik observasi atau pengamatan saat mahasiswa bekerja.
2. Sikap mahasiswa yang mendukung selama melaksanakan langkah kerja dengan teknik observasi atau pengamatan saat mahasiswa bekerja.
3. Pengetahuan mahasiswa yang mendukung elemen kompetensi asuhan yang dilatih dengan cara melakukan tanya jawab atau tes lisan.
Kebutuhan belajar bagi ibu hamil dapat diperoleh dari bidan. Bidan menganjurkan hal-hal yan dibutuhkan oleh ibu hamil. Bertujuan agar ibu hamil dapat trampil dalam  menjaga kehamilan, memberikan asupan makanan seperti gizi seimbang, mempersiapkan diri untuk menerima kehamilan, mempersiapkan fisik dan mental untuk menerima kelahiran dan pasca persalinan, Mengajarkan cara menyusui yang baik.

Memberikan pendidikan dan penyuluhan kesehatan kepada individu, keluraga, kelompok dan masyarakat tentang penaggulangan masalah kesehatan khususnya yang berhubungan dengan pihak terkait mengenai kesehatan ibu, anak dan KB, seperti :
1.    Pembelajaran saat Antepartum
Tindakan perawatan diri sendiri
a.    Latihan penanganan nyeri, klien membutuhkan gerak upaya mempermudah jalan lahir saat persalinan, meningkatkan rasa nyaman, memperbaiki perkembangan psikomotor bayi dan mempercepat proses penyembuhan masa pasca persalinan.  Maka, dianjurkan untuk bidan memberikan contoh gerakan-gerakan senam terbaik untuk ke-3 titik masalah, diantaranya :
·      Punggung bawah : goyang panggul
·      Abdomen : merangkak, melingkar, memiringkan panggul
·      Lantai panggul : senam kegel, merangkak
Adapun senam terbaik dan sederhana untuk ibu hamil yaitu dengan cara berjalan kaki.
b.    Perawatan gigi, perawatan gigi diperlukan untuk meningkatkan kesehatan termasuk ibu hamil karena pada ibu hamil gusi cenderung mengalami hypertrofi selama kehamilan. Perawatan gigi merupakan komponen utama pendidikan kesehatan yang dapat membantu mencegah penyakit mulut dan mencegah timbulnya masalah dikemudian hari. Maka, berikan pengarahan pada klien untuk selalu menggosok gigi dan melakukan flosing untuk mencegah terbentuknya plak diantara jaringan gusi dan gigi. Anjurkan klien untuk memakan makanan ringan yang mudah larut dimulut untuk mempertahankan kadar gula tetap rendah contohnya, klien di anjurkan untuk memakan makanan ringan yang sehat seperti apel dan wortel.
c.       Metode melahirkan, jalaskan pada klien bahwa kesalahan dalam mempersepsikan tanda persalinan adalah hal yang wajar. Sehingga, jelaskan pada klien perbedaan antara persalinan sejati dan persalinan palsu sehingga tenaga kesehatan harus mengajarkan klien cara mengenali tanda praliminer dan persalinan sejati.
d.      Hiegiene, tindakan ini dapat di lakukan pada vagina, gigi, payudara dll.
·      Vagina : instruksikan klien untuk selalu menjaga kebersihan di vagina agar tidak terkena infeksi bakteri atau jamur dan meningkatkan kesehatan daerah disekitar vagina.
·      Gigi : instruksikan klien untuk melakukan tindakan higiene pada gigi dengan benar, jika sanggup kunjungi dokter gigi dengan teratur terutama diawal kehamilan.
·      Payudara : instruksikan klien untuk melakukan higiene pada payudara dengan air yang jernih, tanpa sabun, setiap hari untuk mengangkat kolostrum dan mengurangi resiko infeksi.
e.    Perawatan payudara, kewaspadaan khusus dalam perawatan payudara selama kehamilan untuk membantu pencegahan kehilangan tonus payudara yang dapat menyebabkan nyeri dan mencegah menggantungnya payudara dikemudian hari. Caranya, instruksikan klien untuk memakai bra yang berbahan lembut dan tidak memakai bra yang ketat, karena mereka perlu memakai bra berukuran besar selama kehamilan agar dapat mengakomodasi penambahan ukuran payudara. Berikan peringatan pada klien jika pada payudara terdapat kolostrum yang banyak maka anjurkan klien untuk meletakkan kasa atau kasa payudara di dalam bra, ganti kasa tersebut dengan sering agar payudara tetap kering dan tidak terjadi ekskoriasi puting susu, nyeri dan fisura. Ingatkan klien bahwa cairan yang keluar (kolostrum) dapat terjadi pada minggu ke-16 selama kehamilan.
f.     Aktifitas fisik dan seksual, Yakini klien agar selalu berupaya mempertahankan kesehatannya dalam mempersiapkan fisik dan mental untuk bisa menghadapi persalinan dan pasca persalinan. Jalaskan mengenai kemungkinan perubahan dalam keinginan seksual dan bantu klien juga pasangannya untuk menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut, jelaskan pada mereka bahwa perubahan itu hanya sebatas suatu perbedaan kondisi bukan hilangnya nafsu seksual terhadap pasangannya.
g.    Tidur, Memberikan pengarahan pada ibu hamil mengenai persiapan diri untuk menerima kehamilan yang dialaminya dan berikan pengetahuan tentang istirahat/ tidur yang cukup. Untuk ibu hamil dibutuhkan tidur 10 jam, yaitu 8 jam tidur malam dan dilanjutkan 2 jam lagi tidur siang.
h.    Ibu hamil membutuhkan pembelajaran seperti pemenuhan kebutuhan gizi dan nutrisi untuk ibu hamil dengan cara bidan memberitahukan instruksi tentang pemilihan makanan dan minuman apa yang sesuai untuk pemenuhan kebutuhan ibu hamil, bila perlu ajarkan atau praktekkan bagaimana cara memasak makanan dengan menu makanan yang berbeda agar ibu hamil tidak merasa bosan.
2.    Pembelajaran saat Pascapartum
a.    Tawarkan dukungan dan ajarkan mengenai perubahan-perubahan psikologis yang terjadi pada pascapartum
b.    Ulas kembali pembelajaran terdahulu mengenai perawatan diri, memberi makan bayi dan cara perawatan bayi.
3.    Pembelajaran saat Intrapartum
a.    Ajarkan ibu cara mengejan dengan pengaturan nafas yang baik agar dua nyawa dapat terselamatkan dengan keadaan normal.


2.3 MENETAPKAN KEBUTUHAN KONSULTASI ATAU RUJUKAN PADA TENAGA PROFESIONAL LAINNYA
a. Definisi
Sistem rujukan dalam pelayanan obstetri adalah suatu pelimpahan tanggung jawab timbal balik atas kasus atau masalah kebidanan yang timbul baik secara vertikal maupun horizontal.
Rujukan vertikal maksudnya rujukan dan komunikasi antara satu unit ke unit lain yang lebih lengkap. Umpamanya dari rumah sakit kabupaten ke rumah sakit provinsi atau rumah sakit tipe C ke rumah sakit tipe B yang lebih spesialistis fasilitas dan personalianya. Sedangkan horizontal maksudnya konsultasi dan komunikasi antar unit yang ada dalam satu rumah sakit, misalnya antara bagian kebidanan dan bagian ilmu kesehatan anak.

b. Tujuan Rujukan
• Agar setiap penderita mendapat perawatan dan pertolongan yang sebaik-baiknya
• Menjalin kerjasama dengan cara pengiriman pendrota atau bahan laboratorium dari unit yang kurang lengkap ke unit yang lebih lengkap fasilitasnya
• Menjalin pelimpahan pengetahuan dan keterampilan (transfer of knowledge and skill) melalui pendidikan dan latihan antara pusat pendidikan dan daerah

c. Kegiatan rujukan dan pelayanan ini antara lain berupa :
• Pengiriman orang sakit dari unit kesehatan yang kurang lengkap ke unit kesehatan yang lebih lengkap
• Rujukan kasus-kasus patologik pada kehamilan, persalinan dan nifas
• Pengiriman kasus masalah reproduksi manusia lainnya, seperti kasus-kasus ginekologi atau kontrasepsi yang memerlukan penanganan spesialis
• Pengiriman bahan laboratorium
• Bila penderita telah sembuh dan hasil laboratorium telah selesai, kembalikan dan kirimkan lagi kepada unit semula, bilamana perlu disertai dengan keterangan yang lengkap (surat balasan)

d. Kegiatan rujukan informasi medis antara lain berupa :
• Membalas secara lengkap data-data medis penderita yang dikirim dan advis rehabilitas kepada unit yang mengirim
• Menjalin kerjasama sistem pelaporan data-data medis umumnya dan data-data parameter pelayanan kebidanan khususnya terutama mengenai kematian maternal dan perinatal. Hal ini sangat berguna untuk memperoleh angka-angka secara regional dan nasional.
Ø  Contoh : ibu hamil dengan diagnosa hipertensi pada pemeriksaan 140/90 mmHg disertai edema saa memeriksakan diri ke bidan A, karena batas dari wewenang bidan sehingga bidan merujuk ke rumah sakit.
e.    Hal-hal yang dapat dirujuk
a.       Memberikan asuhan kebidanan pada klien dengan resiko tinggi dan pertolongan pertama pada kegawat daruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi antar dokter
b.      Rujukan atas kasus-kasus patologik pada kehamilan, persalinan dan nifas
c.       Merujuk klien yang sedang menghadapi kasus atau masalah reproduksi, seperti kasus ginekologi atau kontrasepsi yang memerlukan penanganan spesialis.
f.    Hasil informasi dari kegiatan rujukan
a.       Membahas secara lengkap data-data medis klien yang telah dikirim dan advis rehabilitas kepada unit yang mengirim
b.      Menjalin kerjasama sistem pelaporan tentang data-data medis pada umumnya dan data-data parameter pelayanan kebidanan khususnya mengenai kematian maternal dan periental
2.4 MENETAPKAN KEBUTUHAN UNTUK PENGOBATAN KOMPLIKASI RINGAN
Ada beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada trimester I, yang mana pada setiap komplikasi tersebut dibutuhkan penanganan dan pengobatan agar kehamilan tersebut dapat berjalan lancar (normal) seperti yang diharapkanoleh ibu hamil, keluarganya, maupun petugas kesehatan. Komplikasi itu adayang ringan dan ada pula yang berat. Dan sebagai seorang bidan, kita hanya diberi wewenang untuk mengatasi atau menetapkan kebutuhan untuk  pengobatan komplikasi ringan.
Komplikasi dan Ketidaknyamanan
a. Deskripsi
• Konstipasi aadalah gangguan rasa nyaman yang umum terjadi pada trimester pertama kehamilan
• Ini juga merupakan msalah nutrisi yang umum terjadi pada kehamilan
• Konstipasi cenderung terjadi pada kehamilan akibat tekanan pada peristaltik usus dari uterus yang terus membesar, pengaruh hormon relaksin plasenta, dan kemungkinan akibat menngkatnya kadar progesteron
• Konstipasi menyebabkan rasa begah dan penuh serta hilang nafsu makan

b. Temuan Pengkajian
• Adanya rasa begah dan penuh pada abdomen
• Hilang nafsu makan
• Perubahan pola eliminasi usus

c. Implikasi Keperawatan
• Kaji nutrisi klien dan pola eliminasi yang mungkin menjadi faktor penyebab
• Anjurkan klien untuk mengosongkan ususnya secara teratur
• Anjurkan pada klien untuk meningkatkan kandungan serat dalam makanan dengan mengkonsumsi buah dan sayuran dan minum air dalam jumlah lebih dari biasanya setiap hari
• Jika klien mengkonsumsi suplemen besi oral, daripada melarang klien mengkonsumsi suplemen tersebut yang berguna untuk menambah simpanan besi, lebih baik kita membantu klien untuk konstipasi melalui cara lain
• Ingatkan klien untuk tidak mengkonsumsi obat umum untuk mencegah konstipasi, terutama minyak mineral yang akan mengganggu absorpsi vitamin larut lemak yang diperlukan bagi pertumbuhan janin dan kesehatan ibu
• Beri tahu klien untuk menghindari enema karena tindakan ini dapat mencetuskan persalinan
• Anjurkan klien untuk menghindari obat-obatan yang dijual bebas selama kehamilan kecuali diresepkan oleh dokter
• Berikan pelunak feses, laksatif ringan dan supositora sesuai instruksi
• Nasehatkan klien untuk menghindari makanan pembentuk gas, seperti kubis atau buncis, sehingga flatus dapat dikontrol
Dalam menetapkan kebutuhan untuk pengobatan komplikasi ringan dalam kehamilan harus berdasarkan Kep Menkes No 900 tahun 2002 tentang registrasi dan kewenangan praktik bidan dan standar pelayanan Kebidanan (SPK). Diantaranya yaitu penanganan
a. Abortus iminens
Tidak perlu pengobtan khusus atau tirah baring total
Jangan melakukan akrtivitas fisik berlebihan atau hubungan seksual
Jika perdarahan berhenti lakukan asuhan antenatal seperti biasa, lakukan penilaian jika perdarahan terjadi lagi.
Jika perdarahan terus berlangsung nilai kondisi janin (uji kehamilan atau USG), lakukan konfirmasi kemungkinan adanya penyebab lain,
b. Pre eklamsi
Pantau tekanan darah, urin (untuk proteinuria), refleks, dan kondisi janin.
Konseling pasien dan keluarganya tentang tanda-tanda bahaya preeklamsi dan eklamsia.
Lebih banyak istirahat.
Diet biasa (tidak perlu diet rendah garam).
Tidak perlu diberi obat-obatan.
Jika rawat jalan tidak mungkin, rawat dirumah sakit:

-                  Diet biasa.

-                  Pantau tekanan darah 2 kali sehari, dan urin sekali sehari

-                  Tidak perlu diberi obat-obatan.

-                 Tidak perlu diuretik, kecuali jika terdapat edema paru, dekompensasi kordis, atau gagal ginjal akut.

-                 Jika tekanan diastolik turun sampai normal pasien dapat dipulangkan, nasihatkan untuk istirahat dan perhatikan tanda-tanda preeklamsi berat, kontrol 2 kali seminggu untuk memantau tekanan darah, urine , keadaan janin, jika tidak ada tanda-tanda perbaikan tetap dirawat, lanjutkan penanganan dan observasi kesehatan janin, jika terdapat tanda-tanda pertumbuhan janin terhambat, pertimbangkan terminasi kehamilan.  jika  tidak rawat sampai aterm. Jika protein uria meningkat, tangani sebagai preeklamsi berat.
c. Hyperemesis gravidarum

Pencegahan terhadap Hiperemesis gravidarum perlu dilaksanakan dengan jalan memberikan penjelasan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologik, memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang – kadang muntah merupakan gejala yang flsiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan 4 bulan, mengajurkan mengubah makan sehari – hari dengan makanan dalam jumlah kecil tetapi lebih sering. Waktu bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur, tetapi dianjurkan untuk makan roti kering atau biskuit dengan teh hangat.

Makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan. Makanan dan minuman sebaiknya disajikan dalam keadaan panas atau sangat dingin.
Obat-obatan
Sedativa yang sering digunakan adalah Phenobarbital. Vitamin yang dianjurkan Vitamin B1 dan B6 Keadaan yang lebih berat diberikan antiemetik sepeiti Disiklomin hidrokhloride atau Khlorpromasin. Anti histamin ini juga dianjurkan seperti Dramamin, Avomin
Terapi psikologik
Perlu diyakinkan pada penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan, hilangkan rasa takut oleh karena kehamilan, kurangi pekerjaan yang serta menghilangkan masalah dan konflik, yang kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit ini.
d. Anemia dalam kehamilan.
Anemia defisiensi besi

-   Koreksi anemia dan pengembalian status besi dapat dicapai dengan pemberian preparat besi- fero sulfat, fumarat atau glukonas- yang dapat memberikan 200 mg elemen besi. Pengobatan dilanjutkan hingga 3 bulan setelah koreksi anemia untuk mengembalikan cadangan besi. Peningkatan hemoglobin minimal 0,3 g/dl tiap minggu.  Jika wanita tersebut tidak dapat mentoleransi preparat besi maka terapi parenteral dapat diberikan.

-   Anemia defisiensi folat

Asam folat oral 1-5 mg/hari diberikan hingga beberapa minggu setelah melahirkan. Pengobatan ini memberikan respon yang baik dan diharapkan kadar hematokrit meningkat 1% setiap harinya dimulai sejak hari 5-6 pengobatan. Hitung retikulosit juga menigkat dan merupakan perubahan morfologi yang paling awal terlihat. Suplementasi besi pada anemia defisiensi folat tergantung indikasi.
















BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kunjungan awal prenatal merupakan kesempatan untuk menkaji wanita hamil yang datang untuk memperoleh perawatan prenatal. Kunjungan ini merupakan waktu untuk membina hubungan saling percaya dan memperlihatkan kepdulian sehingga klien selalu kembali untuk mendapat bimbingan, dukungan, dan memantau kesejahteraan klien serta bayinya.
Peran bidan dan tenaga kesehatan sangat dibutuhkan terutama dalam memberikanasuhan, memberikan pendidikan, penyuluhan kesehatan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat. Agar individu, kelompok, keluarga, dan masyarakat tahu bagaimana cara menangani permasalahan klien terkait dengan  kesehatan  ibu hamil dan kesehatan janinnya agar mendapat pola hidup yang baik dalam kebutuhan sehari-hari.














REFERENSI
Eryati. 2011. Diktat Askeb 1 Semester II. Indramayu: STIKes Indramayu
Estiwidani, Dwana., dkk. 2008. Konsep Kebidanan. Yogyakarta:Fitramaya
http://sitimuslihaamkeb.blogspot.com/2011/06/pengembangan-rencana-asuhan-yang.html
Pilitteri, Adele. 2002.Buku Saku Asuhan Ibu dan Anak. Jakarta:EGC